Selasa, 28 Oktober 2008

Simphony Cinta

Tidak akan pernah ku tau,
kapan semua kan jadi nyata dalam pandangku.
Semua masih serupa rintik hujan yang jatuh dari taman Langit,
yang biru membekas senja khatulistiwa.
Aku bagai senarai cerita usang,
lagu ku adalah piringan hitam,
dan simph0ny nya yang masih belum terdengar jelas.
Belenggu Cinta dalam ketakpastian.

Created by: Atika Dian Pitaloka
281008
23.34

Minggu, 26 Oktober 2008

Akankah Kau Menemukanku

Aku terhempas dalam keliaran samudra.
Tak tenggelam,namun tak juga mampu menepi.
Hingga kapan ku berlayar sampai ke pulau seberang?
Sungguh sudah lelah semua sendi2 tubuhku.
Jika ku tak sadarkan diri, akankah kau menemukanku di luasnya lautan ini?

Created by: atika dian
211008
18.49

Sabtu, 25 Oktober 2008

Surat Untuk Sahabatku

Matahari masih memancarkan sinarnya,
pertanda Allah masih mencintaimu.
Pun embun dan hujan masih menyiramimu dengan kesegaran,
pertanda Allah masih mengirimkan kesejukan untukmu.
Bunga masih bermekaran,
dan serangga masih setia membantu penyerbukannya,
pertanda Allah selalu menjamin rizki hambaNya.
Dan kau masih memiliki orang orang yang mencintai dan mengasihimu,
melalui tangan merekalah cinta dari Allah mengalir dan sampai kepadamu.
Wahai yang terkasih,
semoga keselamatan selalu meliputi jalanmu,
dan kesedihan tak akan mewarnai hari indah milikmu,
karena sesungguhnya kau punya segalanya.

Created by: Atika Dian Pitaloka
251008
02.30 pagi

Selasa, 30 September 2008

Pergimu

Pergimu sisakan getar cinta yang tak pernah putus.
Suara yang dulu bergema di ruang kamar tidur kita, kini tak ada lagi.
Hadirmu di teras depan seraya membaca koran,
kini hanya tinggal kenangan.
Lantunan-mu sewaktu membaca kitab suci Al-Qur'an disaat kurebahkan kepalaku di pangkuanmu, kini menghilang.
Dan adzan-mu yang dulu berkumandang di penghujung malam kita,
semua tak kudapati lagi.
Sayang,
aku kesepian.
Pagi-ku tak seceria dahulu, waktu kau bersamaku.
Malamku tak setenang dulu, ketika kau disisiku.
Membelai lembut rambutku ketika ku terjaga dari mimpi buruk-ku,
memeluk-ku dikala gelisah,
mengayomiku dengan kasih dan kesabaran luar biasa.
Kasih, kini hanya cinta dan memori tentangmu yang tetap hidup di kedalaman sanubariku.
Sungguh aku rindu kau.
Sudah tak terhitung lagi berapa banyak tetes air mata yang mengalir ketika merindukanmu,
dan berapa banyak doa yang terucap untukmu,
juga ungkapan syukurku pada Sang Pencipta yang telah memberikan hadiah terindah kepadaku karna memilikimu dan merajai hatimu.
Cinta,
bersabarlah,
kelak di firdaus-Nya kita kan memadu kasih lagi.
Aku amat mencintaimu...

Created by: atika dian
290908
22.16

I made this poem with tears on my cheek, specially for my grandma, when i see her eyes, her eyes say that... "Loneliness". Ahh love u, grandma, be patient please. U will get grandpa again in the heaven. Amin ya robbal alamin.

Minggu, 28 September 2008

Inginku

Ya Allah,
jika diriku dapat menggantikannya,
biarkan aku menggantikan lelahnya.
Biar tak da peluh dan keringat letih yang keluar dari keningnya.

Jika diriku dapat memikul beban nya,
biarkan aku melakukan itu untuknya.
Agar ia bisa melangkah lebih cepat,
dan tak da kesusahan dalam pikirnya.
Biar segala duka dan kesulitan lenyap dari sisi-nya.

Bila kau dapat kabulkan pintaku,
tuk mengambil segala aral lintang di depan nya,
maka pasti akan kupunguti satu persatu.

Tuhan,
aku ingin menghapus segala kesulitan yang ia punya.
Andai ku dapat,
walau mesti menanggung segala kepayahan,
aku rela.

Created by: atika dian
290908
10.01

Selasa, 23 September 2008

Katamu Aku...

Katamu aku indah,
teramat indah.
Dan akulah bidadarimu.

Katamu aku setia,
menanti hingga ujung malam berganti pagi.
Alunkan doa yang terlantun dari basah bibirku yang bergema untukmu.

Katamu aku cahaya.
Pelitamu disaat gelap.
Ulurkan sinar cinta kala kau terjatuh dan menangis.
Hingga mampu buatmu bangkit kembali.

Katamu aku penyejuk kalbu.
Redakan amarah disaat kau terbakar.
Bagai air padamkan api.

Katamu aku agung.
Cahaya dimataku adalah cinta.
Kau ingin dekap aku dikala ku sembahyang.
Karna kau kata aku ta'at.
Dan luluhkan hatimu yang keras.

Katamu aku sempurna.
Dan begitu anggun dalam kesederhanaan yang ku miliki.

Katamu aku tegar.
Tetap kuat dalam satu keyakinan.
Tak ubah pendirian.
Laksana karang yang tak goyah walau dihempas gelombang beribu kali dalam jutaan tahun.

Cinta,
jangan bicara lagi.
Kumohon berhentilah memuji.
Ini tidaklah seberapa.
Yang kupinta hanya do'a.
Do'a dalam sujudmu.
Do'a dalam langkahmu.
Do'a dalam tangismu.
Do'a dalam senyummu.
Do'a dalam gelisahmu.
Do'a dalam tegarmu.
Do'a dalam nyatamu.
Do'a dalam mimpimu.
Dan do'a dalam setiap hembusan nafasmu.
Karna hanya dengan itu aku menjadi kuat.

Created by: Atika Dian Pitaloka
230908
21.11

Adakah Mentari untuk Kita

Adakah mentari untuk kita, sayangku?
Dikala malam sama saja gelapnya dengan pagi.

Adakah hujan untuk kita, cintaku?
Dikala kemarau datang sepanjang tahun.
Dan pepohonanpun tak ada yang berbunga.
Apalagi berbuah.

Created by: atika dian
230908
21.14

Senin, 22 September 2008

Senja Bersamamu

Aku ingin membagi senja bersamamu.
Katupkan mata kala dihempas rerintik hujan,
yang menelusup masuk melalui ventilasi rumah kita.
Mengukir namaku dan namamu
pada kaca jendela yang berembun karena hujan.
Menikmati dingin yang mulai hilang karna hangat pelukan.
Dan secangkir teh milik kita berdua
yang teronggok di samping ranjang
menatap cemburu pada kemesraan kita.
Kasih,
aku ingin begini.
Selamanya
dalam dekapmu.

Created by: atika dian
220908
17.23

Kau dalam Mimpi-ku

Semalam kau jumpaiku dalam mimpi.
Kulihat gurat kesusahan dalam sorot mata itu.
Air mata yang hendak membuncah,
mengaliri pipi kecoklatanmu.

Kau berkata:
:"Bukan-nya aku tak mau datang,sayang.
Kau tahu jiwaku slalu ingin bersamamu.
Apa kau pikir aku bahagia disini?
Jangankan tawa,
senyum-pun kini ku tak punya.
Tanpamu, aku gulita.
Kau lilin kecilku,
dengan api abadinya.
Hangatkan jemariku yang dingin karna menggigil semalaman.
Kau hangatkanku,
tanpa membakarnya.
Sayang, sungguh aku lelah.
Menjumput pagi sendiri.
Bercumbu petang dalam ketiadaan gairah.
Aku ingin pulang.
Entaskan sgala rindu yang menganak sungai.
Merebahkan keletihanku pada pangkuanmu.
Sayang,
walau letih sangat,
namun ku akan tetap hidup dalam ketegaran cinta kita.
Agar kelak ku mampu menyandingmu.
Dan milikimu seutuhnya.
Dalam mahligai terindah-Nya."

created by: atika dian
220908
11.32

Tembikar Usang

Semua serupa sempurna.
Walau dalam pahit itu.
Karna janji kau ada,
tepati dalam rona kesetiaan.
Bagai bongkahan muti tersembunyi duka.
Debu hiasinya jadi seumpama tembikar usang.
Tunggu,
tunggulah aku.
Yang kan siraminya dengan hujan cinta.
Agar kilaunya tak lagi berselimut gelap dalam kesah dan rupa sedih.
Ku kan pantulkan kilau cintamu ke angkasa,
dan menyinari setiap sudut kota di malam ini.

Created by: atika dian
220908
13.19

Rapuh Bila Seutas

Seperti luka basah yang masih merah.
Terbuka dicumbu udara senja.
Tak ada kasa balutinya mesra.
Seakan menunggu kafan menjemput.
Hening,
mati tanpa suara.
Menunggu bak pengantin kehilangan pasangan.
Meracau duka di sudut hati yang membisu.
Aku bagai jaring benang laba-laba.
Lemah,
dan rapuh bila seutas.
Namun akan melebihi kuatnya baja,
bila bersama.

Created by: atika dian
220908
11.18wib

Jangan Sentuh Aku Seujung Jari-pun

Jangan!

Jangan sentuh aku seujung jari-pun!

Aku tak sudi!

Dan cintaku pasti sudi menghajarmu.
Melayangkan bogem mentah-nya seraya berkata:
:"DAMN! WHAT THE HELL!!
TAKE OFF YOUR HANDS FROM MY BABE!!"

And BUGHH! BUGHH!

Kau meringis dalam sakit,
dan biru lebam pada pipi-mu yang bengkak karna tinju-nya.

Kau dengar lagi pangeranku berkata:
:"HOW DARE YOU ARE FOR TOUCHING MY ANGEL??! WHEREAS ME, HER LOVE, NEVER TOUCH HER TIL NOW!

DONT EVER DO THAT AGAIN,
OR I WILL KILL YOU!!"

created by: Atika dian
220908
11.54

Minggu, 21 September 2008

Menanti Kecipak Langkahnya

Mengakar pada bisu kelam yang terpasung mimpi.
Membekas luka pancarkan elegi nan duka.
Melebur menyatukan pedih dan harap.
Bersemayam rindu dalam puan jelaga.

Gadis manis,
setia cintamu tlah goreskan luka-luka dalam pada hatimu.
Terpasung dalam jendela takdir.
Kau ada disana menanti hujan turun.
Dan kecipak langkah pemuda yg riuh pada deras-nya.

Created by: atika dian
220908
05.16

Cawan Kusam yang Telah Mati

Mengepul asap membara luka.
Laksana jelaga hitam dalam cawan putih kusam,
yang terinjak gelap malam.
Ia tak lagi sanggup pantulkan cahaya bulan.
Kering.
Mengeras.
Dan hitam.
Cawan kusam yang telah mati.

Created by: atika dian
220908
05.52

Aku Ini Sebilah Belati

Aku ini selimut sukma.
Hangatkan hatimu yang dingin tak terjamah cinta.
Buai dan buatmu lelap dalam pelukan.

Aku ini lentera jiwa.
Yang menyinari kegelapan hatimu,
yang sendiri disana.
Menuntunmu dikala kau tersesat.

Dan aku ini pujangga cinta.
Yang mampu menguapkan lelahmu karna terlalu lama berjalan.
Hanya dengan satu kalimat saja.

Aku ini rumpun emosi.
Menuntut semangkuk jernih sabar.
Dikala ku terbakar.

Aku ini pasangan cincin yang melingkar di jari manismu.
Mewangi setia beralaskan cita.
Dan cinta.

Aku ini harum kesturi.
Melekat pada wangi tubuhmu,
dan keringat yang menetes dalam penatmu.

Namun aku pula adalah sebilah belati.
Yang membuatmu luka,
berdarah,
karena mencintaiku.

Mengapa tetap kau genggam aku?
Mengapa tak kau hiraukan luka dan goresan-goresan pada telapak tanganmu?
Mengapa tak kau lepas saja aku dan kembali padanya?

Sungguh ku cintai mu.
Tak ingin ku lihat kepedihan karna pengorbananmu.
Tapi ku tak ingin lepaskan tanganmu.
Walau ku lihat tetes darah jatuh yang kemudian mengering.

Tapi terkadang aku takut,
karna begitu dicintai.

Created by: atika dian
220908
05.44